Friday, January 9, 2009

Penyakit Tetanus

Pengertian

Tetanus atau disebut kancing gigi disebabkan oleh racun bakteri anaerob Clostridium tetani yang dapat masuk ke tubuh baik pada luka yang dalam maupun luka yang dangkal — bahkan bisa dari luka kecil atau tusukan. Tetanus merupakan penyakit berbahaya , 3 – 5 dari 10 penderita meninggal akibat penyakit ini. Kematian tersebut biasanya terjadi pada penderita yang sangat muda, sangat tua, dan pemakai obat suntik, jarum infus, gigitan serangga, dan luka bakar. Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan yang mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani.

Spora dari Clostridium tetani dapat hidup selama bertahun-tahun dan mampu bertahan dalam suhu sangat tinggi. Terdapat di dalam tanah, kotoran hewan, debu, dan pupuk. Jika bakteri Tetanus masuk ke dalam tubuh manusia akan terjadi infeksi. Selain itu, setelah proses persalinan, bisa juga terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (disebut dengan tetanus neonatorum). Yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri tersebut, bukan dari bakteri itu sendiri.

Penyebab

Bakteri dapat masuk ke tubuh manusia melalui kerusakan kulit seperti luka gores, tusuk atau luka abrasi. Contoh yang sering ditemukan adalah akibat tercakar kuku. Selain itu dapat pula ditemukan akibat jarum infus, gigitan serangga, dan luka bakar.

Tetanus menyerang interaksi antar urat syaraf dan otot yang terstimulasi. Daerah ini disebut jaringan neuromuscular. Tetanus yang parah ditunjukkan dari urat syaraf terhadap otot menjadi semakin erat dalam kontraksi yang besar atau kekejangan.

Tetanus tidak menularkan dari orang ke orang. Tetanus hanya dapat terjadi jika bakteri berubah bentuk menjadi bentuk vegetatif dalam tubuh manusia. Sebenarnya bakteri ini menghasilkan 3 toksin namun tetanospasmin merupakan penyebab timbulnya tetanus.

Gejala

Gejala-gejala Tetanus biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling umum terjadi adalah kekakuan pada rahang sehingga penderita tidak dapat membuka mulut, dan menelan. Gejala lainnya berupa gelisah, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, serta kejang otot, lengan, dan tungkai. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang pada otot-otot perut, leher, dan punggung dapat menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang, sedangkan badannya melengkung ke depan. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah akan menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.


Gangguan-gangguan dari luar yang ringan, seperti suara berisik, aliran angin atau goncangan, dapat memicu kekejangan otot yang disertai nyeri dan keringat yang berlebihan. Selama terjadinya kejang di seluruh tubuh, penderita tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku atau terjadi kejang pada tenggorokan. Hal tersebut menyebabkan gangguan pernafasan sehingga penderita akan kekurangan oksigen. Tetanus biasanya terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di sekitar luka itu bisa menetap selama beberapa minggu.

Pencegahan

Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada mengobatinya. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Sedangkan pada dewasa, sebaiknya menerima booster(vaksin ulangan). Pada seseorang yang memiliki luka, jika:

  • Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut
  • Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi
  • Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.

Pencegahan dilakukan dengan pemberian vaksinasi tetanus. Dalam bentuk tetanus toksoid. Pada usia kurang dari 6 minggu diberikan dalam bentuk vaksinasi DPT atau DPTa, kemudian 3 seri dilanjutkan pada bulan ke-2, ke-4 dan ke-6. Booster (vaksin ulangan) diharapkan diberikan pada bulan ke 15-18. Dosis awal ini cukup untuk melindungi sampai pada saat pra sekolah. Dosis keempat diberikan pada bulan ke-12. Booster kedua diberikan pada usia 4-6 tahun untuk melindungi pada saat awal usia sekolah. Pada dewasa diberikan setiap 10 tahun dalam bentuk TT. pada beberapa kasus kadang dibutuhkan pemberian Anti Tetanus Serum. Suntikan ini dapat menyebabkan pembengkakan yang bertahan beberapa minggu.

Tindakan pencegahan selain vaksin dapat dilakukan dengan cara selalu berhati-hati terhadap benda tajam, khususnya anak-anak. Misalnya, ketika sedang berjalan, usahakan untuk menggunakan sepatu agar tidak tertusuk paku atau jarum. Jika tusukan menimbulkan luka, harus secepatnya dibersihkan dengan sabun, air, dan mencari bantuan obat.

Orang yang hidup diarea perternakan kuda, cenderung menderita Tetanus. Akibat berada di lingkungan yang banyak tanahnya.

Perhatian : Setiap luka terbuka harus selalu di cuci dengan air mengalir.

Perawatan

Pengobatan tetanus dilakukan dengan cara menetralisir racun, yaitu dengan cara diberikan immunoglobulin tetanus. Antibiotik tetrasiklin dan penisilin biasanya diberikan untuk mencegah pembentukan racun lebih lanjut. Obat lainnya juga bisa diberikan untuk menenangkan penderita, mengendalikan kejang, dan mengendurkan otot-otot.

Penderita biasanya dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan yang tenang. Untuk infeksi menengah sampai berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernafasan. Obat tertentu bisa diberikan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung. Setelah sembuh, harus diberikan vaksinasi lengkap karena infeksi tetanus tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya.


Langkah apa yang harus dilakukan jika ada reaksi yang berbahaya :
1. Telepon doktor atau menyuruh seseorang untuk mencari dokter terdekat
2. Catat kejadian tanggal dan waktu pada saat kejadian
3. Minta kepada dokter, perawat, atau departemen kesehatan untuk laporan data vaksin

No comments: