Saturday, September 6, 2008

Malassezia, Penyebab Utama Ketombe

PARIS – Data ini telah dipersentasikan oleh para peneliti P&G dalam acara Kongres Dermatologi Dunia (World Congress of Dermatology) beberapa waktu lalu. Mereka menyatakan bahwa ketombe bukan disebabkan oleh menumpuknya jamur Malassezia furfur (M. furfur) seperti yang kita ketahui sebelumnya. Ketombe biasa banyak menyerang lebih dari 50 persen orang Kaukasia dan 80 persen orang Afrika, yang disebabkan buangan protein dari dua jenis jamur Malassezia yang lain yaitu M restricta dan M globosa.
Dalam suatu penelitian yang dilakukan beauty care senior scientist P&G, Thomas Dawson JR Ph.D dalam judul ”Fast, Non-invansive Method for Molecular Detection and Speciation of Malassezia on Human Skin, and Application to Dandruff Microbiology”, bahwa dari 70 responden yang menderita ketombe ditemukan adanya jenis jamur Malassezia. Dalam kasus ini, ditemukan 70 persen jamur M restricta dan 45 persen jamur M globosa, sedangkan jamur M furfur tidak terdeteksi pada semua responden.
Malassezia adalah genus jamur lipophilic yang merupakan bagian dari flora normal kulit kepala manusia. M restricta dan M globosa memakan protein dari folikel rambut. Penyerapan sebagian protein yang tinggal di kulit menyebabkan iritasi di kulit kepala yang menyebabkan terjadinya ketombe.
”Kami telah mempelajari ketombe dan kondisi kulit kepala lainnya selama beberapa tahun, memfokuskan kepada organisme tertentu yang menyebabkan terjadinya penyimpangan,” kata Dr Dawson.
”Kami harap data-data ini dapat memberikan masukan kepada perkembangan perawatan ketombe dengan pendekatan baru,” tambahnya.
”Data-data baru mengenai penyebab sebenarnya dari ketombe adalah langkah maju yang besar dalam memahami ketombe, yang akan berguna untuk komunitas ahli kulit,” ujar Boni Elewski MD, profesor kulit di Universitas Alabama, Birmingham.
”Penelitian ini memungkinkan untuk perkembangan penanganan anti-ketombe yang lebih efektif, dan tidak hanya mengatasi keadaan, tetapi dapat juga membantu mencegah timbulnya ketombe,” lanjut Boni.

Ketombe Menyerang
Penemuan Dr Dawson juga berlaku untuk seborrheic dermatitis, bentuk yang lebih parah dari ketombe yang menyerang lebih dari 10 persen orang Kaukasia. Ini menyebabkan serpihan besar, rasa gatal yang hebat, kemerahan dan iritasi.
Pekerjaan sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti P&G menunjukkan bahwa kelebihan protein berkolerasi dengan ketombe dan seborrheic dermatitis. Studi ini juga menunjukkan bahwa mengurangi jumlah sebum dengan rajin keramas memperbaiki tanda klinis seborrheic dermatitis. Hal tersebut juga mendukung teori yang mengatakan bahwa sebum mempunyai efek positif dalam pertumbuhan jamur.
Dr Dawson menekankan bahwa P&G akan melakukan studi kuantitatif yang rinci untuk mendefinisikan peranan jamur Malasssezia jenis lain dengan lebih baik, termasuk peranan sensitivitas individual terhadap M globosa dan M restricta.
”P&G berkomitmen untuk mencari dan mengerti teknologi di balik masalah kulit seperti ketombe, sehingga kami dapat terus memberikan kepada para profesional kesehatan dan konsumen penanganan ketombe yang paling efektif,” tegas Eric Amstrong, vice president of research & development, divisi global hair care P&G.

Meneliti Lebih Jauh
Secara khusus, P&G akan meneliti lebih jauh dan dalam mengenai peranan protein dalam hubungannya dengan ketombe dan seborrheic dermatitis, untuk terus mengembangkan keampuhan yang terbaik dari produk-produk antiketombe.
Sebagai tambahan, para peneliti P&G akan meneliti lebih dalam lagi alasan mengapa untuk sebagian pasien bereaksi terhadap jamur Malassezia, sedangkan yang lainnya tidak.
Beberapa tahun yang lalu, komunitas ilmiah tidak setuju mengenai peranan Malassezia dalam timbulnya ketombe. Sejumlah peneliti berargumen bahwa peningkatan penambahan sel di kulit kepala terutama disebabkan oleh ketombe, dan mikroorganisme seperti Malassezia, hanya menunjukkan ketidaknormalan utama kulit.
Pada tahun 1970/80-an, studi-studi ilmiah menunjukkan keefektifan suatu unsur antijamur khusus dalam memperbaiki kondisi kulit kepala yang kronis. Para peneliti membuktikan sebuah hubungan antara Malassezia dengan ketombe dan seborrheic dermatitis. Mereka berasumsi bahwa M furfur adalah penyebabnya.
Baru-baru ini studi ilmiah mendukung hubungan antara Malassezia dan protein dalam kaitannya dengan ketombe. Studi-studi ilmiah yang lalu, menunjukkan keterlibatan Malassezia dalam sejumlah ilmu penyakit, berhubungan dengan perubahan protein permukaan kulit.
Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa hanya dua dari sembilan spesies Malassezia yang terdapat di kulit kepala, yang dapat menyerap protein alami di kulit kepala. Hal lain yang dapat menunjukkan hubungan antara ketombe dan M restricta dan M globosa, adalah Malassezia memakai enzimnya untuk memecah trigliserin (protein). (pr/jjs)

No comments: