Friday, July 31, 2009

Penyakit Ginjal Datang tanpa Gejala Khas

Pengobatan Ust. Galih Gumelar - Penyakit ginjal bisa menyerang siapa saja, tak melulu orang berusia lanjut. Arief Ashari, contohnya. Pria berusia 30 tahun ini adalah penderita gagal ginjal. Dua kali seminggu ia harus menjalani cuci darah. Arief berusia 28 tahun saat terdeteksi berpenyakit ginjal. Muntah berkali-kali, lemah, dan kehilangan nafsu makan memaksanya terbaring di rumah sakit. ''Setelah melalui berbagai pemeriksaan diketahui ginjal saya tinggal 32 persen,'' kenang Arief.

Dokter, lanjut Arief, awalnya tak khawatir dan tidak merekomendasikannya untuk cuci darah. Kondisi Arief dikatakan bisa membaik asalkan berdiet ketat, tidak capek, dan tidak stres. ''Itu karena saya masih muda dan tidak ada penyakit lain.'' Hanya saja, tuntutan pekerjaan sebagai jurnalis foto pada sebuah majalah terkemuka membuat Arief tak bisa memenuhi persyaratan tadi. Kondisi kesehatan ginjalnya pun merosot, menyisakan 17 persen bagian ginjal yang berfungsi. ''Saya sedang tak sadar saat cuci darah pertama berlangsung.''

Menyusul memburuknya kondisi kesehatannya, Arief memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai fotografer. Arief yakin faktor keturunan bukan satu-satunya hal yang membuatnya sakit ginjal. ''Kecapekan, pola makan yang tidak teratur, daya tahan tubuh yang kurang baik, serta kegemukan turut andil sebagai pencetus,'' komentar Arief yang ayahnya pernah terkena penyakit batu ginjal.

Tak hanya Arief. Kris Biantoro juga akrab dengan penyakit ginjal. Pembawa acara televisi yang berjaya di era 1980-1990-an ini telah 40 tahun menjadi pasien prehemodialisis (pre-HD). Dengan memilah makanan yang masuk ke mulutnya, Kris yang kini berusia 70 tahun dapat tampil energik dengan penyakit ginjal kronisnya. Kisah Samuel Mulia lain lagi. Penulis mode dan gaya hidup ini berpuluh tahun hidup dengan atrofi ginjal, ukuran ginjalnya kecil. ''Ternyata, ini kelainan ginjal bawaan,'' ungkapnya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Indonesia Kidney Care Club, Ahad (16/3).

Pada tahun 2005, ia sempat cuci darah selama dua bulan. Di tahun yang sama, ia ke Cina untuk melakukan transplantasi ginjal. ''Saya merasa jauh lebih sehat setelahnya,'' kata Samuel. Sebelum terdeteksi sakit ginjal, baik Arief, Kris, maupun Samuel sama-sama tak merasakan keluhan apapun. Mereka merasa sehat meski organ penting dalam tubuhnya sudah mengalami penurunan fungsi kerja. ''Penyakit ginjal memang datang tanpa gejala yang khas,'' jelas Dr dr Suhardjono SpPD-KGH KGer. Tanda kegawatan baru akan muncul saat kondisi ginjal sudah telanjur parah. Tak heran jika kebanyakan orang datang ke dokter setelah ginjalnya yang sehat tinggal 15 persen. Mereka mengeluh cepat lelah, nafsu makan turun, susah tidur, kram otot, bengkak pada pergelangan kaki, gatal dan kulit kering, dan sering berkemih di malam hari.

Lantas, bagaimana kita dapat mengetahui sehat-tidaknya ginjal? Ternyata, caranya sangat mudah. Meski begitu, tidak banyak orang yang mau menyempatkan diri melakukan pemeriksaan. ''Coba tes urine secara rutin di laboratorium,'' saran ketua umum Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Ginjal dan Hipertensi tersebut. Urin secara rinci dapat memperlihatkan kondisi ginjal. Terkait penyakit ginjal, waspadai keberadaan leukosit pada urine. Ini mencerminkan ginjal yang terinfeksi. Sedangkan, adanya protein di urine menunjukkan penurunan fungsi ginjal. ''Sebab, ginjal yang sehat mampu menyaring protein hingga tidak tampak sedikitpun pada urine,'' kata Suhardjono.

Selain urine, kadar kreatinin dalam darah juga perlu diperiksa. Kadar kreatinin bisa dilihat dari pemeriksaan darah rutin. ''Pada orang yang ginjalnya rusak, kadar kreatinin dalam darahnya akan meningkat,'' jelas dokter yang bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta ini. Pada kasus Kris, kreatinin memperjelas perburukan kondisi ginjalnya. Dalam darah kakek empat cucu ini pernah terpantau kreatinin yang bertengger di angka tujuh. Padahal idealnya, kreatinin -- zat buangan yang berasal dari aktivitas otot dan dibuang dari darah oleh ginjal --berada di rentang nol hingga 1,5.

Tanpa kedua pemeriksaan tersebut, mustahil meneropong kondisi ginjal. Apalagi, rasa sakit di sekitar pinggang yang banyak orang kira sebagai pertanda penyakit ginjal bukanlah indikator akurat. ''Sakit pinggang biasanya cuma persoalan musculo-skeletal, seputar otot dan tulang,'' cetus dokter yang juga praktik di RS Pelni Pertamburan, Jakarta Barat itu.

Sejumlah pemicu
Penyakit ginjal, lanjut Suhardjono, memang tak pandang bulu. Ia tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Namun, pada orang yang di keluarganya terdapat penderita batu ginjal, diabetes, stroke, dan penyakit jantung koroner, risikonya lebih tinggi. ''Orang yang pernah menjalani operasi pengangkatan batu ginjal pun berisiko terkena penyakit ginjal.''

Dulu, penyakit ini hanya akrab menghinggapi orang-orang berusia lanjut yang karena perjalanan waktu mengalami penurunan fungsi organ. Namun, seiring pola konsumsi makanan yang salah dan meningkatnya jumlah penderita diabetes, tren penderita penyakit ginjal ikut berubah. ''Belakangan, yang berusia 50 tahun makin banyak yang sudah terserang,'' ujar Suhardjono.

Penyakit ginjal datang dengan berbagai penyebab. Bisa lantaran kelainan bawaan, mungkin pula akibat konsumsi obat terlarang maupun penggunaan analgesik secara berlebihan. Di samping itu, infeksi serta komplikasi penyakit seperti diabetes, hipertensi, lupus, HIV/AIDS, hepatitis C, dan gagal jantung pun berpotensi memengaruhi kerja ginjal.

Di Indonesia, kasus penyakit ginjal umumnya disebabkan oleh komplikasi penyakit lain dan faktor usia lanjut. Tekanan darah tinggi alias hipertensi dan diabetes merupakan penyakit yang paling sering berujung pada kerusakan ginjal. ''Sebagai langkah deteksi dini, cobalah secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama cek urine dan darah,'' cetus alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini

No comments: